Vol I no. 1. April 2012 Embrio, Jurnal
Kebidanan
ANALISIS TENTANG PARITAS DENGAN KEJADIAN KETUBAN PECAH DINI PADA
IBU BERSALIN DI RSUD SIDOARJO
1. Damarati
Tenaga Pengajar Prodi
D-III Kebidanan Universitas PGRI Adi Buana Surabaya
2. Yulis Pujiningsih
Mahasiswa Prodi D-III
Kebidanan Universitas PGRI Adi Buana Surabaya
ABSTRAK
Ketuban pecah dini
merupakan komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan. Ketuban pecah dini
adalah pecahnya ketuban satu jam sebelum terdapat tanda- tanda persalinan.
Faktor-faktor yang berhubungan erat dengan ketuban pecah dini sulit diketahui.
Kemungkinan adalah infeksi, golongan darah ibu dan anak tidak sesuai, multi
graviditas (paritas), merokok, defisiensi gizi (vitamin C), inkompetensi
servik, polyhidramnion, riwayat ketuban pecah dini, kelainan selaput ketuban.
Penelitian ini bertujuan untuk untuk mendapatkan data paritas dengan kejadian
ketuban pecah dini pada ibu bersalin di RSUD Sidoarjo. Dalam penelitian ini
digunakan metode deskriptif dengan desain penelitian cross sectional yang
pengambilan sampelnya dilakukan secara probablility sampling dan tipe
yang digunakan adalah sampel random. Jumlah populasi selama bulan
April-Mei 2011 sebanyak 340 orang dan jumlah sampelnya sebanyak 183 orang.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada 183 ibu bersalin
didapatkan sebanyak 138 orang (75,41%) tidak mengalami ketuban pecah dini dan
sebanyak 45 orang (24,59%) mengalami ketuban pecah dini. Dari 71 orang ibu
primipara, 55 orang (77,46%) tidak mengalami ketuban pecah dini dan 16 orang
(22,54%) mengalami ketuban pecah dini, sedangkan dari 101 ibu multipara 76
orang (75,24%) tidak mengalami ketuban pecah dini dan 25 orang (24,76%)
mengalami ketuban pecah dini, Dan dari 11 orang ibu grande multipara, 7 orang
(63,64%) tidak mengalami ketuban pecah dini dan 4 orang (36,36%) mengalami
ketuban pecah dini. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa sebagian besar ibu
bersalin 101 orang (55,20%) adalah multipara.Sebagian besar ketuban pecah dini
dialami oleh grande multipara sebanyak 4 orang (36,36%). Sebagian besar ibu
bersalin 138 orang (75,41%) tidak mengalami ketuban pecah dini.
Kata Kunci: Paritas, ketuban pecah dini
____________________________________________________________________________
BAB I
PENDAHULUAN
Berbagai
permasalahan yang membahayakan ibu hamil saat ini sangat rentan terjadi, hal
ini seiring banyaknya kejadian atau kasus-kasus yang ditemui di dunia kebidanan
terkait dengan tanda-tanda bahaya kehamilan. Yang paling menonjol saat ini
adalah kejadian Ketuban Pecah Dini (KPD) adalah pecahnya ketuban ditunggu
samapai 1 jam tidak diikuti tanda-tanda persalinan (inpartu). Sebagian besar
ketuban pecah dini terjadi di atas usia kehamilan 37 minggu, sedangkan dibawah
36 minggu tidak terlalu banyak. Ketuban pecah dini merupakan masalah yang
kontroversi dalam obstetric yang berkaitan dengan penyebabnya.
Menurut
Hidayat (2009) walaupun banyak publikasi tentang KPD, namun penyebabnya masih
belum diketahui dan tidak dapat ditentukan secara pasti. Beberapa laporan
menyebutkan faktor-faktor mana yang lebih berperan sulit diketahui. Beberapa
laporan menyebutkan faktor-faktor yang berhubungan erat dengan KPD sulit
diketahui. Kemungkinan faktor predisposisi adalah infeksi, golongan darah ibu
dan anak tidak sesuai, multi graviditas (paritas), merokok, defisiensi gizi
(vitamin C), inkompetensi servik, polihidramnion, riwayat KPD sebelumnya,
kelainan selaput ketuban.
Menurut
Hidayat (2009) komplikasi paling sering terjadi pada ketuban pecah dini sebelum
usia kehamilan 37 minggu adalah sindroma distress pernapasan, yang terjadi pada
10-40% bayi baru lahir. Risiko infeksi meningkat pada kejadian ketuban pecah
dini, selain itu juga terjadinya prolapsus tali pusat. Risiko kecacatan dan
kematian janin meningkat pada ketuban pecah dini preterm. Hipoplasia paru merupakan
komplikasi fatal yang terjadi pada ketuban pecah dini preterm. Kejadiannya
mencapai 100% apabila ketuban pecah dini preterm terjadi pada usia kehamilan
kurang dari 23 minggu.
Menurut
Manuaba (2010) kejadian ketuban pecah dini mendekati 10% dari semua persalinan.
Pada umur kehamilan kurang dari 34 minggu sekitar 4 %. Menurut
Wahyuni (2009) kejadian ketuban pecah
dini di indonesia sebanyak 35,70% - 55,30% dari 17.665 kelahiran, sedangkan
data kejadian ketuban pecah dini di RSUD Sidoarjo belum ada secara pasti, namun
pada saat praktik klinik pada tanggal 29 Nopember- 12 Desember 2010 dari 20
orang ibu bersalin ditemukan 8 orang mengalami ketuban pecah dini. Dari adanya
data yang belum pasti mengenai kejadian ketuban pecah dini di RSUD Sidoarjo
maka peneliti ingin melakukan penelitian tentang gambaran paritas dengan
kejadian ketuban pecah dini pada ibu bersalin di RSUD Sidoarjo.
Rumusan
masalah pada penelitian ini adalah bagaimana pengaruh paritas terhadap kejadian
ketuban pecah dini di RSUD Sidoarjo.
Tujuan umum
penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh paritas dengan kejadian ketuban
pecah dini pada ibu bersalin periode bulan April-Mei 2011 di Rumah Sakit Umum
Daerah Sidoarjo.
Tujuan Khususnya adalah :
1) Mengidentifikasi paritas ibu bersalin di RSUD Sidoarjo.
2) Mengidentifikasi ketuban pecah dini pada ibu bersalin di RSUD Sidoarjo.
3) Menganalisis ketuban pecah dini dengan paritas di RSUD Sidoarjo.
2) Mengidentifikasi ketuban pecah dini pada ibu bersalin di RSUD Sidoarjo.
3) Menganalisis ketuban pecah dini dengan paritas di RSUD Sidoarjo.
BAB II
BAHAN DAN METODE
Dalam penelitian ini menggunakan
metode deskriptif dengan pendekatan cross sectional dimana data yang
menyangkut variabel bebas atau risiko dan variabel terikat atau variabel akibat
akan dikumpulkan dalam waktu yang bersamaan. Metode penelitian deskriptif
adalah suatu keadaan secara objektif. Dalam penelitian ini ingin menggambarkan
tentang paritas dengan kejadian ketuban pecah dini di RSUD Sidoarjo. Populasi
dalam penelitian ini adalah ibu bersalin di VK RSUD Sidoarjo periode bulan
April-Mei 2011 sebanyak 340 orang.
Pengambilan
sampel dilakukan secara acak besarnya sampel sebanyak 183 orang. Variabel dalam
penelitian ini terdiri dari 2 variabel yaitu variable bebas dan variable
terikat. Variable bebas adalah paritas dan Variabel tergantung dari penelitian
ini adalah kejadian ketuban pecah dini.
Paritas
adalah banyaknya anak yang dilahirkan oleh ibu dari anak pertama sampai dengan
anak terakhir yang dicatat dalam rekam medik. Ketuban pecah dini adalah Ketuban
pecah, dan sampai dengan 1 jam belum diikuti tanda-tanda inpartu yang dicatat
dalam rekam medik.
Pengumpulan
data dengan menggunakan lembar pengumpul data. Pengumpulan data ini dilakukan
dengan cara tabulating, peneliti memindahkan data dari rekam medik
kedalam tabel untuk dibuat rekapitulasi secara keseluruhan sehingga mempermudah
peneliti dalam membuat tabel sesuai karakteristik masing-masing pada hasil
penelitian. Waktu penelitian ini dilakukan pada bulan April- Mei 2011. Tempat
penelitian ini diadakan di RSUD Sidoarjo.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
Data paritas ibu bersalin
Tabel
1. Distribusi Frekuensi paritas ibu bersalin di VK RSUD Sidoarjo bulan
April-Mei 2011
Paritas
|
f
|
%
|
Primipara
|
71
|
38,80
|
Multipara
|
101
|
55,20
|
Grande multipara
|
11
|
6,00
|
Total
|
183
|
100
|
Berdasarkan
tabel 1 menunjukkan bahwa dari 183 ibu bersalin, sebanyak 101 orang (55,20%)
ibu bersalin adalah multipara.
Data ketuban pecah dini
Tabel 2 Distribusi Frekuensi kejadian
ketuban pecah dini pada ibu bersalin di VK RSUD Sidoarjo bulan April-Mei 2011.
KPD
|
f
|
%
|
Tidak (-)
|
138
|
75,41
|
Ya (+)
|
45
|
24,59
|
Total
|
183
|
100
|
Berdasarkan tabel 2
menunjukkan bahwa dari 183 ibu bersalin, sebanyak 138 orang (75,41%) tidak
mengalami KPD.
Data ketuban pecah
dini pada primipara
Tabel 3 Distribusi
Frekuensi kejadian ketuban pecah dini pada primipara di RSUD Sidoarjo bulan
April-Mei 2011
KPD
|
f
|
%
|
Tidak (-)
|
55
|
77,46
|
Ya (+)
|
16
|
22,5
|
Total
|
71
|
100
|
Berdasarkan tabel 3
menunjukan bahwa dari 71 ibu primipara sebanyak 55 orang (77,46%) tidak
mengalami KPD.
Data ketuban pecah
dini pada multipara
Tabel 4 Distribusi Frekuensi kejadian
ketuban pecah dini pada multipara di RSUD Sidoarjo bulan April-Mei 2011.
KPD
|
f
|
%
|
Tidak (-)
|
76
|
75,24
|
Ya (+)
|
25
|
24,76
|
Total
|
101
|
100
|
Berdasarkan tabel 4
menunjukan bahwa dari 101 orang ibu multipara, sebanyak 76 orang (75,24%) tidak
mengalami KPD
Data ketuban pecah
dini pada grande multipara
Tabel 4 Distribusi Frekuensi kejadian
ketuban pecah dini pada grande multipara di RSUD Sidoarjo bulan April-Mei 2011.
KPD
|
f
|
%
|
Tidak (-)
|
7
|
63,64
|
Ya (+)
|
4
|
36,36
|
Total
|
11
|
100
|
Berdasarkan tabel 5
menunjukkan bahwa dari 11 orang grande multipara, 7 orang (63,64%) tidak
mengalami KPD.
Analisis Data
Analisis Data paritas
ibu bersalin dengan kejadian ketuban pecah dini.
Tabel 6 Analisis
Dataparitas ibu bersalin dengan kejadian ketuban pecah dini di RSUD Sidoarjo
periode bulan April-Mei 2011
Paritas
|
KPD
|
Jumlah
|
||||||||||||
YA(+)
|
TDK(-)
|
|||||||||||||
f
|
%
|
f
|
%
|
f
|
%
|
|||||||||
Primipara
|
16
|
22,54
|
55
|
77,46
|
71
|
100
|
||||||||
Multipara
|
25
|
24,76
|
76
|
75,46
|
101
|
100
|
||||||||
Grandemultipara
|
4
|
36,36
|
7
|
63,64
|
11
|
100
|
||||||||
Berdasarkan tabel 6 menunjukkan bahwa
dari 71 orang ibu kelompok primipara, sebagian besar yaitu 55 orang (77,46%)
ibu bersalin tidak mengalami KPD. Sedangkan dari 101 orang ibu kelompok
multipara, sebanyak 76 orang (75,46%) ibu bersalin tidak mengalami KPD. Dan
dari 11 orang ibu kelompok grandemultipara, sebanyak 7 orang (63,64%) ibu
bersalin tidak mengalami KPD.
Keadaan Paritas Ibu Bersalin di RSUD
Sidoarjo.
Berdasarkan
tabel 1 menunjukkan bahwa dari 183 ibu bersalin, sebagian besar yaitu 101 orang
(55,20%) ibu bersalin adalah multipara.
Hal ini
sesuai dengan teori Wiknjosastro (2007), yang menyatakan bahwa Paritas 2-3
(multipara) merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut kematian
maternal. Paritas 1 dan paritas tinggi (lebih dari 3) mempunyai angka kematian
maternal lebih tinggi. Lebih tinggi paritas, lebih tinggi kematian maternal.
Resiko pada paritas satu dapat ditangani dengan asuhan obstetrik lebih baik,
sedangkan resiko pada paritas tinggi dapat dikurangi atau dicegah dengan
keluarga berencana.
Banyaknya ibu multipara yang bersalin
di RSUD Sidoarjo menggambarkan bahwa program keluarga berencana sudah berhasil
khususnya di kabupaten Sidoarjo. Keberhasilan program KB di kabupaten Sidoajo
menepis opini yang ada di masyarakat bahwa banyak anak banyak rejeki.
Opini
tersebut sudah tidak berlaku pada saat ini karna sebagian besar masyarakat
sudah mengerti bahwa semakin banyak anak semakin banyak komplikasi pada saat
hamil atau melahirkan.
Oleh karena
itu, ibu dengan paritas 2-3 dianggap aman dalam menjalani proses kehamilan dan
persiapan persalinannya, karena pada paritas ini ibu sudah memiliki pengalaman
dalam menjalani proses kehamilan dan persalinannya. Selain itu, pada ibu
multipara motilitas uterus dan kelenturan leher rahim masih berfungsi dengan
baik.
Kejadian Ketuban Pecah dini di RSUD
Sidoarjo.
Berdasarkan
tabel 2 menunjukkan bahwa sebanyak 45 orang (24,59%) mengalami ketuban pecah
dini.
Tingginya
kejadian ketuban pecah dini sebanyak 45 orang (24,59%) dari 183 orang yang
bersalin di RSUD Sidoarjo tidak sesuai dengan teori Manuaba (2010), yang
menyatakan bahwa Insidensi ketuban pecah dini mendekati 10% dari semua
persalinan. Selain itu, tingginya angka kejadian ketuban pecah dini di VK RSUD
Sidoarjo juga dikarenakan RS tersebut merupakan RS rujukan tipe B non
pendidikan untuk wilayah disekitar Kabupaten Sidoarjo. Sehingga banyaknya
kejadian Ketuban pecah dini dikarenakan banyaknya rujukan ibu bersalin dengan
ketuban pecah dini dari pelayanan-pelayanan kesehatan disekitar Kabupaten
Sidoarjo, sehingga banyaknya kejadian ketuban pecah dini dikarenakan jumlah
rujukan dari pelayanan kesehatan disekitar kabupaten Sidoarjo yang cukup
sering.
Meskipun
banyak publikasi tentang ketuban pecah dini, namun penyebabnya masih belum
diketahui dan tidak dapat ditentukan secara pasti. Beberapa laporan menyebutkan
faktor-faktor yang berhubungan erat dengan ketuban pecah dini, misalnya
paritas. Ketuban pecah dini merupakan masalah kontroversial dalam kasus
kebidanan. Ketuban pecah dini seringkali menimbulkan konsekuensi yang dapat
menimbulkan morbiditas dan mortalitas pada ibu maupun bayi terutama kematian
perinatal yang cukup tinggi. Kematian perinatal yang cukup tinggi ini antara
lain disebabkan karena akibat kurang bulan, dan kejadian infeksi yang meningkat
karena partus tak maju, partus lama dan partus buatan yang sering dijumpai pada
pengelolaan kasus ketuban pecah dini terutama pada pengelolaan konservatif.
Pembahasan tentang paritas dengan
kejadian ketuban pecah dini pada ibu bersalin.
Berdasarkan
tabel 3 menunjukkan bahwa dari 71 orang ibu kelompok primipara, sebagian besar
yaitu 55 orang (77,46%) ibu bersalin tidak mengalami KPD. Sedangkan dari 101
orang ibu kelompok multipara, sebanyak 76 orang (75,46%) ibu bersalin tidak
mengalami KPD. Dan dari 11 orang ibu kelompok grandemultipara, sebanyak 7 orang
(63,64%) ibu bersalin tidak mengalami KPD.
Hal ini tidak sesuai dengan teori Manuaba (2010) yang
menyatakan bahwa paritas (multi/ grande multipara) merupakan faktor penyebab
umu terjadinya ketuban pecah dini. Sedangkan menurut Geri Morgan dan Carole
Hamilton (2009), paritas merupakan salah satu faktor yang mengakibatkan ketuban
pecah dini karena peningkatan paritas yang memungkinkan kerusakan serviks
selama proses kelahiran sebelumnya dan teori Dr.Prasanthi (2009) yang menyebutkan
bahwa risiko terjadinya ketuban pecah dini lebih banyak terjadi pada
grandemultipara yang disebabkan oleh motilitas uterus berlebih, perut gantung,
kelenturan leher rahim yang berkurang sehingga dapat terjadi pembukaan dini pada serviks, yang mengakibatkan
terjadinya ketuban pecah dini.
Dari hasil penelitian yang menunjukan bahwa sebagian
besar ibu bersalin tidak mengalami ketuban pecah dini mungkin disebabkan oleh
beberapa faktor yaitu pemeriksaan kehamilan yang teratur. Kebiasaan
hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan yang sehat, minum cukup, olahraga
teratur dan berhenti merokok. Membiasakan diri membersihkan daerah kemaluan dengan
benar, yakni dari depan ke belakang, terutama setelah berkemih atau buang air
besar. Memeriksakan diri ke dokter bila ada sesuatu yang tidak normal di daerah
kemaluan, misalnya keputihan yang berbau atau berwarna tidak seperti biasanya.
Untuk sementara waktu, berhenti melakukan hubungan seksual bila ada indikasi
yang menyebabkan ketuban pecah dini, seperti mulut rahim yang lemah.
Menurut Ayah Bunda (2011) Mengonsumsi 100 mg vitamin C
secara teratur saat usia kehamilan lebih dari 20 minggu bisa mencegah
terjadinya ketuban pecah dini. Dari hasil penelitian dari National Institute
of Perinatology di Meksiko City, pada 120 wanita hamil yang secara acak
diberikan 100 mg vitamin C, pada saat kehamilan memasuki usia 20 minggu.
Vitamin C telah diketahui berperan penting dalam mempertahankan keutuhan
membran (lapisan) yang menyelimuti janin dan cairan ketuban. Walaupun
penelitian sebelumnya telah menghubungkan kadar yang rendah dari vitamin C pada
ibu dengan meningkatnya resiko terjadinya pecahnya membran secara dini atau
yang disebut dengan ketuban pecah dini ("premature rupture of membranes",
PROM), tapi penelitian itu tidak menjelaskan tentang penggunaan suplemen
vitamin C dalam menurunkan risiko terjadinya KPD.
Untuk itu,
penelitian di Meksiko ini dilakukan. Dari hasil pemberian suplemen vitamin C
yang dimulai pada saat usia kehamilan 20 minggu, menunjukkan peningkatan dari
kadar vitamin C dalam darah dibanding dengan kelompok kontrol (tidak diberikan
suplemen vitamin C). Dan peningkatan ini berhubungan juga dengan menurunnya
resiko untuk mengalami KPD. Pada kelompok kontrol, terjadi KPD pada 14 dari 57
kehamilan (25%), sedang pada kelompok ibu yang diberikan vitamin C, terjadi
penurunan KPD, yaitu hanya terjadi pada 4 dari 52 kehamilan.
BAB III
Simpulan dan Saran
Simpulan dan Saran
Berdasarkan
tujuan penelitian yaitu mengetahui tentang paritas dengan kejadian ketuban
pecah dini di VK RSUD Sidoarjo pada Bulan April-Mei 2011 dengan 183 ibu
bersalin, maka kesimpulan yang didapat adalah sebagai berikut 1) Sebagian besar
ibu bersalin 101 orang (55,20%) adalah multipara. 2) Sebagian besar ketuban
pecah dini dialami oleh grande multipara sebanyak 4 orang (36,36%). 3) Sebagian
besar ibu bersalin 138 orang (75,41%) tidak mengalami ketuban pecah dini.
Berdasarkan
hasil penelitian maka disarankan sebagai berikut :
1) Bagi Tenaga Kesehatan diharapkan
agar lebih meningkatkan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi mengenai komplikasi
kehamilan misalnya ketuban pecah dini. Selain itu, bidan juga harus menyarankan
kepada pasien agar rutin melakukan kunjungan antenatal sebagai deteksi dini
adanya tanda-tanda bahaya kehamilan.
2) Bagi masyarakat hendaknya selalu
memperhatiakn kondisi kehamilannya dan selalu memeriksakan ke tenaga kesehatan.
DAFTAR ACUAN
Ayah
Bunda. 2011. Ketuban pecah dini. http//www.ayahbunda.co.id/artikel/kehamilan/tips/mengatasi
ketuban pecah dini.
Bobak, dkk. 2005. Keperawatan
maternitas. Jakarta : EGC
Friedman,
2005. Keperawatan Keluarga. Jakarta : EGC
Harry Oxorn dan William R.forte 2010. Ilmu
kebidanan patologi dan fisiologi persalinan.
Hidayat, Asri, dkk. 2009. Asuhan
Patologi Kebidanan. Jogjakarta : Nuha Medika
Ketuban pecah dini. http://bidan-raka.blogspot.com/2011/04/ketuban-pecah-dini-kpd-atau-premature.html
Liu, David TY. 2008. Manual
Persalinan. Jakarta :EGC
Manuaba,
I.B.G, dkk. . 2008. Gawat Darurat Obstetri Ginekologo & Obstetri
Ginekologi Sosial Untuk profesi Bidan. Jakarta : EGC
_________.
2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB. Jakarta :EGC
Morgan, Geri dan Hamilton Carole.
2009. Obstetri & Ginekologi. Jakarta : EGC
Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Metodologi
Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
Nursalam, Siti Pariani. 2001. Pendekatan
Praktis Metodologi Riset Keperawatan. Jakarta: Sagung Seto.
Nursalam, 2003. Konsep dan
Penerapan Metodelogi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
Prasanthi. 2009. Morbiditas dan Mortalitas Perinatal
Kasus Ketuban Pecah Dini. http://www.nikita/konsultasi-ibu/hamil.2009.php.
(Diakses pada tanggal 25 februari 2011).
Santoso, Gempur. 2007. Fundamental
metodologi penelitian kuantitatif dan kualitatif. Jakarta : Perstasi
Pustaka.
Tim JNPK-KR. 2008. Asuhan
persalinan normal. Jakarta:JNPK-KR.
Wiknjosastro, H,.2007. Ilmu
kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawihardjo.